8 Perkara Ini Tidak Menjadi Baik Jika Tidak Disertai 8 Perkara yang Lainnya

Sholat, berpuasa, membaca Al-Qur’an, memiliki ilmu, memiliki harta, memiliki sahabat, mendapat nikmat karunia Allah dan selalu diberi nikmat bisa berdo’a meminta apapun kepada Allah, adalah 8 perkara yang berharga. Namun, menurut keponakan, sahabat sekaligus menantu Rasulullah.saw, yakni ‘Ali ibn Abi Thalib.ra, 8 perkara di atas tdak akan mendatangkan kebaikan, tidak menjadi baik, dan jauh dari kebaikan.

  1.  Tidak ada kebaikan dalam SHOLAT, tanpa ke-KHUSYU’-an. Sholat menjadi jauh dari kebaikan, apabila tidak menjadikan pelakunya ingat lebih sering kepada Allah dan Hari Akhir. Sholat menjadi jauh dari kebaikan apabila tidak menjadikan pelakunya jauh dari perbuatan keji dan munkar (semoga kita ditetapkan menjadi hamba-Nya yang khusyu’ dalam sholat, aamiinn).
  2.  Tiada kebaikan dalam PUASA, tanpa MENAHAN PEMBICARAAN YANG SIA-SIA. Puasa menjadi jauh dari kebaikan dan keberkahan, jika tidak disertai sikap menahan diri dari melakukan pembicaraan yang kotor, sia-sia, tidak berguna dan tidak berfaedah (semoga kia dijadikan-Nya sebagai hamba-Nya yang baik apabila sedang berpuasa atau sedang tidak berpuasa, selalu hanya mengucapkan perkataan yang baik dan mulia lagi bermanfaat, aamiinn)
  3. Tiada kebaikan dalam MEMBACA AL-QUR’AN, tanpa disertai TADABBUR & TAFAKKUR. Membaca Al-Qur’an menjadi jauh dari kebaikan, apabila tidak disertai dengan tafakkur dan perenungan yang mendalam atas apa-apa yang dikandung di dalamnya (semoga kita dimudahkan untuk menjadi hamba-Nya yang selalu mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai renungan, sebagai introspeksi, dan tunduk terhadap hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, aamiinn).
  4. Tiada kebaikan dalam ILMU, tanpa disertai SIKAP WIRA’I, yakni menjauhkan diri dari perbuatan dosa yang seharusnya hanya dilakukan oleh orang-orang bodoh yang tidak berilmu, dan menjauhkan diri dari segala hal yang syubhat dan yang haram. Sungguh Allah memuliakan hamba-Nya yang berilmu, maka akan sangat tidak pantas, apabila kita dimuliakan Allah dengan ilmu, kita malah menjadi hamba-Nya yang durhaka dan tidak bersyukur (semoga kita dijadikan Allah menjadi hamba yang ditambahi karunia ilmu, dan kita menjadi semakin tunduk kepada-Nya, aamiinn).
  5. Tiada kebaikan dalam HARTA, tanpa KEDERMAWANAN. Sungguh Nabi Muhammad.saw pernah bersabda: “Tidaklah seseorang membuka pintu pemberian dengan jalan bersedekah atau menyambung hubungan kekerabatan, melainkan Allah akan menambah (hartanya) lebih banyak. Dan tidaklah seseorang membuka pintu permintaan, dengan harapan untuk mendapatkan yang lebih banyak, melainkan Allah akan memperbesar kekurangannya” (Hadits dari Imam Baihaqi). Betapa terlihat agung dan mulianya seorang hamba yang dikaruniai harta kekayaan, lagi ia pun ringan tangan dan memiliki sifat dermawan (semoga kita dijadikan oleh Allah sebagai hamba yang memiliki sifat dermawan, memberi baik di waktu sempit, maupun di waktu lapang, aamiinn).
  6. Tiada kebaikan dalam PERSAHABATAN, tanpa adanya sikap SALING MENJAGA & MENGHORMATI. Dari Abu Zubair, diriwayatkan bahwa Rasulullah.saw pernah bersabda: “’Alaikum bi-ikhwaani-sh shofa, fa-innahum ziynatun fi-r rokho-i, wa ‘ishmatun fi-l bala-i” (hendaklah engkau bersahabat dengan orang-orang yang tulus hatinya, karena merekalah hiasan di waktu senang, dan berperan sebagai perisai di kala engkau tertimpa musibah). Semoga kita dikaruniai orang-orang sahabat rekan kawan dan saudara yang tulus dalam persahabatan, aamiinn.
  7. Tidak ada kebaikan dalam NIKMAT, tanpa KEABADIAN. Inilah yang mendorong kita untuk tidak terhanyut dengan kesenangan duniawi yang sifatnya sementara, dan melupakan akhirat yang langgeng dan abadi. Maka di kalangan para ‘ulama ada do’a seperti ini: “Allahumma laa taslub minniy ni’matan an’amta bihaa ‘alayya”, Ya Allah, janganlah Engkau melenyapkan nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku. Jika kita diberi nikmat harta yang halal, kesehatan yang terus-menerus, keluarga dan anak-anak yang shalih shalihah, dan nikmat dalam kebersyukuran, kita berdo’a semoga Allah tidak mencabut segenap nikmat-nikmat tersebut, dan kita berdo’a memohon semoga nikmat-nikmat tersebut tetap menyertai kita selama kita hidup di dunia, dan Allah melanggengkan kita dengan nikmat-nikmat yang lebih mulia dan lebih besar, yakni Jannah, Surga dan ridho-Nya. Aamiinn.
  8. Dan tiada kebaikan dalam NIKMAT BERDO’A, tanpa sikap IKHLAS. Karena hanya orang-orang yang ikhlas-lah, yang mampu menjalani hidup tanpa dipenuhi rasa terbebani. Hidupnya selalu terasa ringan, karena segalanya diterima dengan penuh lapang dan perasaan ikhlas. Inilah maqom (tingkatan) tertinggi, mukhlishin, orang-orang mukhlish, ikhlas, yang tidak akan mempan diganggu oleh syetan dan iblis, dan malah mereka akan berputus asa apabila menjumpai hamba Allah yang mukhlis, sebagaimana putus-asanya iblis tatkala mengganggu Nabi Ayyub.as ketika sakit, dan tatkala mengganggu Nabi Ibrahim.as tatkala mendapat perintah ujian menyembelih Nabi Isma’il.as. Kita memohon kepada Allah semoga kita dijadikan-Nya menjadi sebaik-baik hamba, yang mukhlis. Aamiinn. []