Segala kegiatan yang kita lakukan selama hidup ini sesungguhnya hanya perwujudan dari sebuah kehendak. Nah, sebelum berbuat sesuatu, manusia akan mengawalinya dengan sebuah hasrat atau niat.
Innamal a’malu binniyat. Amal itu tergantung niatnya. Hadits ini sudah sangat populer. Namun, sepertinya belum cukup banyak yang menyadari dari mana datangnya niat yang akan menjadikan sebuah amalan bernilai atau tidak.
Nah, niat yang baik itu konon datangnya dari hati yang bersih. Banyak ayat-ayat, hadits, maupun pendapat ulama terdahulu mengenai kalbu. Yang jelas, yang disebut kalbu atau hati ini bukanlah organ fisik yang ada dalam jasmani manusia.
Coba simak hadits yang juga populer berikut ini:
"Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebajikan itu adalah jiwa dan hatimu merasa tenang; sedangkan dosa adalah yang selalu menghantui jiwamu dan membuat hatimu bimbang, serta engkau merasa tidak suka dilihat oleh orang lain saat melakukannya." (HR. Ahmad dan al-Darimi).
Dari hadits di atas menyiratkan bahwa tiap manusia sebenarnya sudah punya rambu sendiri di dalam dadanya, yang bisa menunjukkan mana yang baik dan mana yang buruk. Tetapi, jangan lupa bahwa hati juga bisa dikotori. Salah satu yang paling sering mengotori hati adalah pikiran-pikiran manusia itu sendiri.
Gagasan-gagasan seperti keinginan untuk dipuji, menjadi tokoh yang populer, terlihat saleh, atau menganggap bahwa banyaknya harta akan membuat bahagia sesungguhnya dapat mengotori hati.
Kalbu juga konon menjadi satu-satunya andalan kita supaya selamat dari hari kiamat nanti. Sebab, semua yang kita miliki atau yang kita merasa sebagai hak milik kita tak akan dapat menolong di hari hisab terkecuali jiwa yang disertai hati yang bersih (Qalbu as-Salim ). Hal tersebut diisyaratkan oleh Allah SWT dalam ayat berikut ini:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ . إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
Artinya: " Pada hari [kiamat itu] ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah SWT dengan hati yang bersih". (QS. As-Syu'ara: 88-89)
Jadi, jika ingin menjaga kebersihan, hal pertama yang harus dijaga adalah kebersihan hati kita sendiri. Dari sanalah semua amalan-amalan yang baik itu akan muncul dengan sendirinya dan di kemudian hari akan menjadi penyelamat hidup.
Pembahasan bisa dilanjutkan lagi supaya lebih jelas dan mendalam.