Belajarlah Sampai Berubah Perilakumu dan Kesadaranmu

Seperti yang kita ketahui, ayat pertama dalam Al Quran berisi perintah untuk membaca. Banyak ulama yang menafsirkan bahwa perintah membaca tersebut mengisyaratkan agar manusia selalu mencari ilmu, baik itu ilmu yang berkaitan dengan dunia maupun akhirat.

Artinya, seorang muslim sejak awal diwajibkan untuk belajar, belajar, dan belajar. Menurut para ahli, muara dari proses belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pembelajaran seorang siswa.

Bahkan, padang arafah, yang menjadi salah satu tujuan dalam proses ibadah haji juga bermakna "padang pengetahuan dan ilmu (Ilahi)".

Secara umum, belajar merupakan hasil dari proses interaksi antara stimulus dengan respons. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dapat menunjukkan perubahan perilaku atau kesadaran.

Tingkatan dalam belajar menurut sejumlah ahli terbagi dalam empat bagian utama:

Inkompeten tidak sadar

Kondisi ini adalah ketika kita tidak tahu bahwa kita sesungguhnya tidak tahu. Contohnya, orang yang sudah membaca buku resep masakan mungkin merasa bahwa ia lantas pandai memasak. Orang semacam ini belum sadar bahwa dirinya tidak tahu cara memasak. Ia hanya tahu ada resep-resep masakan di dalam buku yang telah dibacanya. Jika langsung mencoba memraktikkan, kemungkinan besar masakannya tidak enak atau bahwa banyak terjadi kesalahan dalam proses memasak, sehingga masakannya tidak jadi.

Orang-orang yang berada dalam kondisi ini cenderung mau mengambil risiko, membuka diri terhadap bahaya atau bahkan merugikan. Sebab mereka memang tidak tahu dirinya belum kompeten.

Inkompeten sadar

Setelah melalui proses awal tadi, orang menjadi sadar diri dan mengakui bahwa dia tidak tahu. Selain itu, dia juga menerima dengan penuh kesadaran kepada ketidaktahuan tersebut.

Kompeten sadar

Dengan menyadari bahwa kita tidak tahu, biasanya orang lantas lebih rendah hati. Dari situlah dimuai proses belajar yang sesungguhnya. Mengingat secara sadar orang yang belajar itu tahu dirinya belum kompeten, dia berusaha mendapat keahlian pada subjek tertentu. Akan tetapi, tindakannya belum tentu bisa berjalan secara otomatis. Misalnya, orang yang sudah belajar memasak tadi, walau sudah cukup kompeten, namun masih harus membuka-buka referensi buku tentang bumbu, ramuan, dan sebagainya.

Ketika kita melakukan suatu keahlian, orang harus berpikir secara sadar tentang bagaimana cara melakukannya. Pada tahap ini, reaksi manusia masih agak lamban dibandingkan dengan yang telah benar-benar dianggap ahli.

Kompeten bawah sadar

Nah, bila sudah mencapai tahap ini, orang bisa disebut benar-benar seorang yang ahli. Dia mungkin tak perlu memikirkan secara rinci tentang apa yang harus diperbuat. Dia melakukannya secara naluriah saja, apa yang dia lakukan tampak mudah dan hasilnya baik, yang ketika orang yang tidak kompeten meniru akan mengalami kesulitan.

Dalam belajar tentang agama juga sama saja.